Ketua KIM Sumber Biwara Moyudan : Sastra Jawa Titipkan Tujuh Nilai Kejogjaan untuk Generasi Masa Kini
- Jun 11, 2026
- Admin (FayiSubhi)
Yogyakarta – Keistimewaan Yogyakarta tidak hanya tercermin melalui Malioboro, keraton, atau kuliner gudeg yang melegenda. Lebih dari itu, nilai-nilai kehidupan masyarakat Jogja juga diwariskan melalui sastra Jawa yang sarat makna dan kearifan lokal.
Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Interaktif Pendapa Pro 4 106.6 FM RRI Yogyakarta bertajuk "Kejogjaan dalam Sastra Jawa", Selasa (9/6/2026). Dialog yang dipandu Sugiman Dwi Nurseto menghadirkan dua narasumber dari Paguyuban Sastra dan Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Sleman, yakni Sugiyanto dan Ngatilah (Bunga). Selain aktif di Pasbuja, Sugiyanto Bidang Seni Pendidikan Budaya dan Pariwisata Forum KIM (Komunitas Informasi Masyarakat) DIY. Ia juga menduduki jabatan sebagai Ketua KIM Sumber Biwara Moyudan Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam kesempatan itu, Sugiyanto menjelaskan terdapat tujuh nilai utama yang menjadi identitas masyarakat Yogyakarta dan terus diwariskan melalui karya sastra Jawa.
"Yang pertama adalah andhap asor atau rendah hati. Dalam sastra Jawa, termasuk melalui tembang-tembang tradisional, nilai ini diajarkan melalui ungkapan Ajining diri gumantung saka lati, ajining raga gumantung saka busana," ujar Sugiyanto.
Nilai kedua adalah memayu hayuning bawana, yakni upaya memperindah dan menjaga harmoni kehidupan di dunia. Selanjutnya, nilai ketiga berupa tata krama atau adab yang tercermin dalam penggunaan tingkatan bahasa Jawa, mulai dari Ngoko, Krama hingga Krama Inggil.
"Dalam budaya Jogja, unggah-ungguh sangat diutamakan sebagai bentuk penghormatan kepada sesama," lanjutnya.
Sementara itu, nilai keempat adalah nrima ing pandum, yaitu sikap menerima dengan ikhlas apa yang diperoleh dalam hidup dan selalu mensyukurinya. Nilai kelima adalah gotong royong yang menjadi wujud kebersamaan dan solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat.
Adapun nilai keenam adalah hamemayu hayuning diri, yakni upaya memperbaiki dan memelihara kualitas diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Sedangkan nilai ketujuh adalah falsafah alon-alon waton kelakon atau gliyak-gliyak waton tumindak, yang mengajarkan pentingnya kehati-hatian dan ketekunan dalam bertindak demi mencapai tujuan.
“Penting pula orang tua memberi contoh nyata dalam tindak tutur dan tata krama. Penanaman nilai-nilai sastra dan budaya Jawa dapat dilakukan melaui gladhi atau Latihan MC dalam Bahasa Jawa,” ujar Ngatilah. Tak kalah penting pula, menggunakan Bahasa Jawa di dalam rumah, mengingat rumah merupakan tempat pendidikan awal bagi anak utamanya dalam penanaman nilai-nilai karakter, budaya, dan nilai-nilai Kejogjaan.
Dialog interaktif tersebut mendapat respons positif dari para pendengar.
Berbagai tanggapan dan pertanyaan disampaikan melalui layanan WhatsApp maupun sambungan telepon langsung, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap pelestarian sastra dan budaya Jawa sebagai warisan adiluhung Yogyakarta.
Perekembangan IT tidak menghalangi penanaman nilai Kejogjaan, keduanya berjalan bersamaan. Penanaman nilai-nilai kejogjaan dapat dilakukan melalui IT, apa lagi anak-anak muda tak bisa lepas dari dunia teknologi.
Melalui sastra Jawa, nilai-nilai luhur Kejogjaan tidak hanya dikenang, tetapi juga terus diwariskan kepada generasi muda sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.
Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan