Kartini Jaman Sekarang Berjuang Dalam Ketahanan Pangan Keluarga dan Masyarakat
- Apr 20, 2026
- Admin (FayiSubhi)
- Sumberagung
Moyudan - Jika dahulu RA Kartini berjuang melawan ketertindasan dan kebodohan melalui pendidikan. Kartini jaman sekarang berjuang di ranah yang tak kalah penting yaitu dalam bidang ketahansn pangan. Di tengah harga bahan pangan yang tidak stabil dan tantangan iklim, sosok perempuan masa kini hadir sebagai garda terdepan untuk memastikan dapur keluarga tetap ngebul dan masyarakat sekitar tetap kuat.
Kelompok Wanita Tani (KWT) Jengger yang beralamat di RT 03, Paduluhan Kruwet, Sumberagung, Moyudan, Sleman, kembali membuktikan bahwa perempuan punya peran penting dalam menjaga ketahanan pangan. Dipimpin oleh ketuanya Sri Subekti, KWT Jengger aktif mengelola lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan masyarakat sekitar.
Minggu pagi (19/4/2026) anggota KWT Jengger dengan wajah ceria di bawah sinar matahari, kendati peluh membasahi wajah-wajah mereka., nampak kompak memanen kacang tanah dari demplot 400 meter persegi yang dikelolanya. Terlihat ibu-ibu berjajar di tepi jalan hasil panen yang sudah di cabut. Hasil panen ini menjadi bukti nyata bahwa dari lahan terbatas bisa dioptimalkan untuk menghasilkan pangan yang berkualitas.
Keeja bareng seperti ini bukti nyata peran perempuan dalam ketahanan pangan. Sri Subekti Ketuanya menyampaikan bahwa selain kacang tanah, lahan KWT Jengger juga dimanfaatkan untuk menanam berbagai sayuran. "Demi memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan menambah pendapatan, kami juga menansm berbagai jenis sayuran." Ujar Sri Subekti.
Ia juga menambahkan bahwa DKT Jengger ingin menunjukkan bahwa wanita tidak hanya di dapur tetapi juga mampu berdaya di lahan pertanian. " Lewat kegiatan ini kaum wanita bisa belajar, berbagi ilmu, dan ikut menjaga ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga hingga lingkungan." Tambahnya.
Dengan semangat gotong royong KWT Jengger berharap bisa menginspirasi kelompok perempuan lain untuk ikut bergerak memanfaatkan pekarangan dan lahan kosong demi ketahanan pangan bersama.
(Giek/ KIM SB Moyudan)