Ketekunan di Balik Anyaman Bambu Misja Maja Utama, Pengrajin Kandang Ayam dari Semingin yang Bertahan di Tengah Modernisasi
- Feb 15, 2026
- Admin (FayiSubhi)
- Sumbersari
Di sudut tenang Padukuhan Semingin, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, suara ketukan bambu terdengar ritmis dari sebuah rumah sederhana. Di sanalah Misja Maja Utama (62) menekuni pekerjaannya sebagai pengrajin kandang ayam berbahan bambu. Selasa (10/2/2026), pria kelahiran Bekasi itu menyambut dengan senyum hangat di sela aktivitasnya merapikan anyaman yang hampir selesai.
Sejak tahun 2014, Misja menetap di Semingin bersama keluarganya. Lingkungan pedesaan yang masih kaya bambu menjadi ruang tumbuh bagi usaha kecil yang ia rintis dari hobi memelihara ayam bangkok. Kebutuhan akan kandang yang kuat dan rapi membuatnya mencoba merancang sendiri. Tak disangka, hasil karyanya justru menarik perhatian tetangga dan sesama penghobi ayam.
“Awalnya saya membuat untuk kebutuhan sendiri. Banyak yang melihat kandangnya kokoh dan rapi, lalu minta dibuatkan. Dari situ saya tekuni,” tuturnya.
Kini, setiap hari Misja mampu menyelesaikan dua kandang berukuran 0,8 meter x 0,8 meter dengan tinggi sekitar 0,9 meter. Untuk ukuran tersebut, ia membanderol harga Rp80 ribu per unit. Harga disesuaikan dengan ukuran dan tingkat kesulitan pesanan. Bagi Misja, kualitas tetap menjadi prioritas.
Ia memanfaatkan bambu yang masih banyak tersedia di sekitar tempat tinggalnya. Pemilihan bambu dilakukan dengan cermat, memastikan material cukup tua dan kuat agar tahan lama. Proses pengerjaan dikerjakan manual, mulai dari pemotongan, perakitan rangka, hingga penganyaman dinding kandang.
Hasil produksinya dipasarkan secara langsung kepada perorangan, serta disetorkan ke beberapa kios perlengkapan ternak di sekitar Moyudan dan wilayah sekitarnya. Bahkan, ia pernah menerima pesanan hingga 30 kandang dari satu kios dalam satu periode.
“Alhamdulillah, pernah dapat pesanan cukup banyak. Kalau ada pesanan besar, saya kerjakan bertahap supaya kualitas tetap terjaga,” katanya.
Di tengah maraknya produk kandang berbahan besi dan plastik pabrikan, kandang bambu buatan Misja tetap memiliki tempat tersendiri. Selain lebih alami dan sejuk bagi ayam, material bambu juga relatif ramah lingkungan dan mudah diperbaiki bila ada kerusakan.
Bagi Misja, usaha ini bukan sekadar aktivitas ekonomi. Anyaman bambu yang ia susun satu per satu menjadi simbol ketekunan dan kemandirian. Dari hobi sederhana, kini usaha tersebut mampu menopang kebutuhan keluarga.
“Yang penting tekun dan menjaga kualitas. Selama orang masih memelihara ayam, insyaallah kandang bambu masih dibutuhkan,” ujarnya penuh keyakinan.
Moyudan - Di rumah sederhana itu, di antara tumpukan bambu dan serpihan kayu, Misja membuktikan bahwa kearifan lokal dan keterampilan tangan tetap relevan. Di usia 62 tahun, ia terus merajut harapan melalui setiap bilah bambu yang disusunnya—menjadi kandang, menjadi penghidupan, sekaligus menjadi cerita tentang daya tahan usaha kecil di pedesaan Sleman. (Giek KIM SB Moyudan)